Inilah Para Pemenang Bisnis Indonesia Award (BIA) 2026
Berita Umum|Juli 02, 2026
2 Jul 2026
- Bisnis Indonesia Award (BIA) 2026 menyoroti pentingnya ketangguhan dan keberlanjutan dalam dunia usaha di tengah ketidakpastian global.
- Ketua OJK Friderica Widyasari Dewi menekankan bahwa keberhasilan perusahaan kini diukur dari tata kelola, integritas, dan keberlanjutan, bukan hanya pertumbuhan bisnis dan laba jangka pendek.
- Beberapa pemenang BIA 2026 termasuk Golden Energy Mines Tbk. untuk kategori Produksi Batu Bara dan Bank Mandiri (Persero) Tbk. untuk kategori Bank Persero.
Ketangguhan dinilai menjadi prasyarat utama bagi dunia usaha Indonesia untuk mempertahankan pertumbuhan di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Perusahaan tidak lagi cukup mengejar ekspansi bisnis, tetapi juga dituntut memperkuat tata kelola, keberlanjutan, serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan ekonomi dan iklim.
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi menegaskan kini ukuran keberhasilan perusahaan tidak lagi semata-mata ditentukan oleh pertumbuhan bisnis dan laba jangka pendek, tetapi juga kemampuan menjaga tata kelola, integritas, serta keberlanjutan usaha.
Menurut Friderica, perubahan lanskap ekonomi global telah memaksa dunia usaha menjadikan keberlanjutan sebagai fondasi bisnis. Risiko perubahan iklim, transformasi digital, dan fragmentasi ekonomi global kini telah menjadi tantangan yang dihadapi secara langsung.
"Pertumbuhan yang baik bukan semata-mata mencatat pertumbuhan yang tinggi, tetapi harus merupakan pertumbuhan yang dikelola dengan tata kelola perusahaan yang baik, manajemen risiko yang memadai, serta keberlanjutan jangka panjang," ujarnya dalam sambutannya pada Bisnis Indonesia Awards (BIA) 2026 di Hotel Raffles Jakarta, Kamis (2/7/2026).
Friderica mengatakan pengalaman menghadiri London Climate Action Week menunjukkan isu perubahan iklim telah bergeser dari sekadar pembahasan akademik menjadi persoalan nyata yang memengaruhi aktivitas ekonomi dunia.
"Kalau bicara tentang risiko iklim, itu kita sudah tidak bicara lagi tentang futuristik. Ini sedang berlaku sekarang. It is happening now," katanya.
Dia menilai fenomena gelombang panas ekstrem di Eropa menjadi bukti bahwa perubahan iklim telah berdampak langsung terhadap operasional bisnis. Karena itu, perusahaan perlu meningkatkan kualitas pengungkapan keberlanjutan sekaligus memperkuat strategi transisi menuju ekonomi hijau.
Menurut Friderica, investor global kini semakin mempertimbangkan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) dalam mengambil keputusan investasi. Tren serupa juga mulai diterapkan sektor jasa keuangan dalam penyaluran pembiayaan.
Untuk mendukung proses tersebut, OJK terus memperkuat kerangka keuangan berkelanjutan, termasuk melalui pengembangan taksonomi ekonomi hijau dan penguatan manajemen risiko iklim.
Di sisi lain, Friderica mengakui perekonomian global masih dibayangi ketidakpastian geopolitik dan fragmentasi perdagangan internasional yang meningkatkan risiko perlambatan ekonomi dunia. Meski demikian, Indonesia dinilai masih memiliki ketahanan ekonomi yang relatif kuat.
Dia menyebut pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 5,6%, sementara sektor jasa keuangan tetap menunjukkan kinerja positif. Kredit perbankan tumbuh 11,51% dengan rasio kredit bermasalah (NPL) sebesar 2,17%. Rasio kecukupan modal perbankan mencapai 23,74% dengan likuiditas yang tetap memadai.
Di industri pembiayaan, penyaluran pembiayaan masih tumbuh 1,71% secara tahunan. Sementara itu, pembiayaan digital terus meningkat, dengan layanan buy now pay later (BNPL) perbankan tumbuh sekitar 40% dan BNPL perusahaan pembiayaan meningkat sekitar 53%. Adapun pinjaman daring masih mencatat pertumbuhan sebesar 25,6%.
Namun demikian, Friderica mengingatkan sejumlah tantangan domestik tetap perlu diantisipasi, mulai dari kontraksi aktivitas manufaktur, pelemahan surplus perdagangan, hingga tekanan di pasar keuangan akibat perubahan sentimen investor global.
Dia menambahkan reformasi yang dilakukan bersama Bursa Efek Indonesia, Kustodian Sentral Efek Indonesia, dan pelaku industri telah memperkuat fondasi pasar modal domestik sehingga pergerakannya kini semakin selaras dengan dinamika pasar global.
"Perbaikan itu memang sebuah proses, tetapi ketika semua berkomitmen untuk terus melakukan perbaikan dan mengedepankan integritas, harapan kita pasar modal Indonesia bisa menjadi lebih besar, lebih kuat, dan semakin dipercaya," ujarnya.
Friderica menegaskan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan tidak boleh dicapai dengan mengorbankan tata kelola maupun integritas perusahaan.
"Future itu harus melalui sekaligus kepercayaan ekonomi. Apa pun bisnis yang kita jalankan, itu adalah kegunaan kepada orang lain," katanya.
Sementara itu, Komisaris Utama Bisnis Indonesia Hariyadi B. Sukamdani mengatakan perusahaan-perusahaan di Indonesia harus memiliki daya tahan untuk menghadapi berbagai tantangan yang semakin kompleks, mulai dari ketidakpastian geopolitik, tekanan inflasi, fluktuasi nilai tukar, percepatan transformasi digital, hingga perubahan perilaku konsumen.
"Semuanya menjadi ujian nyata bagi keberlangsungan dan ketangguhan dunia usaha di Indonesia. Dalam tiga tahun terakhir setidaknya kita telah melewati berbagai peristiwa, mulai dari masa transisi dari pandemi ke endemi akibat Covid-19 pada Juni 2023, transisi pemerintahan pada 2024, hingga berbagai dinamika geopolitik yang mewarnai kehidupan ekonomi Indonesia," kata Hariyadi.
Menurut dia, kondisi tersebut mendorong perusahaan tidak hanya bertumpu pada sumber daya yang dimiliki, tetapi juga mengoptimalkan seluruh kekuatan agar mampu berkembang di tengah situasi yang penuh tantangan.
Karena itu, Bisnis Indonesia Group dengan tema Where Growth Meets Strength dalam penyelenggaraan BIA 2026 mencerminkan perjalanan perusahaan-perusahaan yang mampu mempertahankan pertumbuhan sekaligus membangun ketangguhan melalui inovasi, tata kelola yang baik, pengembangan sumber daya manusia, serta komitmen terhadap keberlanjutan.
"Di situlah lahir perusahaan-perusahaan yang mampu menjadi pilar kemajuan bangsa dan motor penggerak kesejahteraan masyarakat Indonesia," ujarnya.
Hariyadi berharap para penerima penghargaan terus memperkuat fondasi bisnis dan memberikan kontribusi terhadap perekonomian nasional.
Pemenang Bisnis Indonesia Award (BIA) 2026:
|
Sumber: BisnisIndonesia
Berita Terkait
CSR Award, Jurus Bappeda Kabupaten Bekasi Dorong Kontribusi Dunia Usaha untuk Pembangunan Daerah
Berita Umum | 02 Jul 2026
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bekasi melalui Badan Perencanaan Pembangunan (Bappeda) tak pernah absen memberikan penghargaan kepada kawasan industri, perusahaan, yayasan dan local hero yang sudah berkontribusi untuk masyarakat dan pembangunan daerah.
SelanjutnyaPertamina EP Teken Dua Kontrak Jual Beli Gas hingga 2035, Amankan Pasokan Gas Industri
Berita Umum | 21 Mei 2026
PT Pertamina EP menandatangani dua Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) dengan PT Cikarang Listrindo dan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) dalam rangkaian kegiatan Indonesia Petroleum Association Convention & Exhibition 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang Selatan, Rabu (20/5/2026).
SelanjutnyaRaih Penghargaan Platinum Berkat Ketajaman Analisis Kinerja Keberlanjutan
Berita Umum | 30 Nop 2025
PT Cikarang Listrindo Tbk meraih Platinum Award pada ajang Asia Sustainability Reporting Rating (ASRRAT) 2025. Apresiasi tersebut sebagai bentuk pengakuan atas peningkatan kualitas, keterbukaan informasi, serta ketajaman analisis kinerja keberlanjutan dalam Laporan Keberlanjutan Tahun Buku 2024. Penghargaan diserahkan pada malam puncak ASRRAT 2025 Gala Dinner yang berlangsung di Nusantara Ballroom, The Westin Resort Nusa Dua Bali.
Selanjutnya